Lpei Dorong Potensi Umkm Berorientasi Ekspor Indonesia Timur

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa berbagai negara yang sudah tergabung dalam World Trade Organization sudah menyetujui adanya perdagangan bebas. Hal tersebut mengindikasikan bahwa setiap hambatan yang terjadi pada perdagangan internasional, baik itu dalam bentuk tarif ataupun nontarif harus bisa ditiadakan. Beberapa produk impor mungkin menawarkan fitur-fitur yang tidak dapat mereka peroleh dari produk domestik. Proteksi tidak hanya untuk industri baru, tetapi juga yang telah mencapai tahap matang. Mereka strategis karena menyerap banyak sekali tenaga kerja dan memiliki rantai produksi yang panjang. Pemerintah mungkin akan mengurangi proteksi ketika industri menjadi kompetitif secara global.

Untuk mengetahui peraturan-peraturan yang melarang ekspor dan impor barang tertentu, Anda dapat pula mencari pada laman Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (). Tahun ini, LPEI telah melakukan pelatihan ekspor untuk beberapa pelaku UMKM berorientasi ekspor di beberapa daerah Solo, Bali, Medan, Kendal, Demak, Bandung dan kali ini di Manado dan sekitarnya. Program ini di mulai sejak 2015 dan udah melatih hampir 1.000 pelaku UMKM di Indonesia serta telah menghasilkan 70 eksportir baru. CPNE merupakan salah satu program pelatihan ekspor jasa konsultasi LPEI yang bertujuan untuk menciptakan eksportir baru yang diselenggarakan secara berkala.

Pihak-pihak yang skeptis terhadap moratorium tersebut menunjukkan bahwa sebelum penerapannya Pemerintah Indonesia telah memberikan konsesi tanah seluas 9 juta hektar untuk lahan baru. Selain itu, perusahaan-perusahaan besar minyak sawit masih memiliki lahan luas yang baru setengahnya ditanami, berarti masih banyak ruang untuk ekspansi. Pada Mei 2015, Presiden Joko Widodo kembali memperpanjang moratorium ini untuk periode 2 tahun. Minyak sawit adalah salah satu minyak yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di dunia.

Ekspor pada hal baru

Murahnya barang-barang dari China ini telah membuat banyak negara berpikir dan menerapkan strategi perdagangan baru dengan China, Amerika saja kelimpungan menghadapi serbuan barang – barang dari China. Orang China yang sangat kreatif dengan tenaga kerja yang murah, telah membuat bangsa tirai bambu itu mampu membuat barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan biaya produksi yang sangat murah. Jika negara kita mersa kekurangan suatu produk maupun jasa atau memang sama sekali tidak menghasil kan produk tersebut, dilakukanlah kegiatan impor. Sebaliknya jika negara kita mampu menghasilkan produk tertentu dalam jumlah melimpah dan dibutuhkan negara lain, dilakukanlah kegiatan ekspor. Dari komoditas energi, harga minyak mengalami peningkatan setelah AS berencan menjatuhkan sanksi terhadap Iran yang mendorong pelaku pasar semakin khawatir pada terganggunya pasokan global, mengingat Iran negara pengeskpor minyak yang mencapai 1,5 juta barel/hari.

Faktor lain yang mendorong harga minyak naik adalah badai Micheal di AS yang mengakibatkan sekiatar 40% produksi minyak di Teluk Meksiko di tutup yang berdampak pada penurunan persediaan. Sentimen lain adalah ketegangan geopolitik seputar hilangnya jurnalis asal Arab Jamal Khashoggi ikut memicu kekhawatiran akan suplai minyak. Sementara itu, harga komoditas batubara mengalami tekanan yang dipicu oleh sentimen negatif dari proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi world oleh IMF three,7% dari sebelumnya 3,9% sebagai imbas perang dagang antara AS dan China. Selain itu cadangan yang meningkat, serta melambatnya sektor manufaktur China ikut mendorong harga komoditas ini melemah. Eskalasi perang dagang akan berdampak pada komoditas berjenis onerous commodity dan komoditas agrikultur seluruh dunia. Pergerakan harga komoditas berjangka telah tertekan oleh hubungan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia yang memburuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *